Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menekankan tradisi geng pelajar di sekolah harus dihentikan.
KPAI menyoroti kasus meninggalnya siswa SMAN 5 Bandung, FA (17) yang sempat dicurigai menjadi korban pengeroyokan oleh geng pelajar SMAN 2 Bandung di kawasan Cihampelas, Kota Bandung, Jumat (13/3/2026) malam.
“Yang perlu menjadi perhatian bersama, apakah ada unsur geng pelajar antarkedua sekolah ini yang turun temurun. Ini perlu menjadi refleksi sekaligus evaluasi berbagai pihak,” kata Anggota KPAI, Diyah Puspitarini, Senin (16/3/2026) dilansir Antara, Kamis (19/3/2026).
Diyah menyebut, membiarkan tradisi geng pelajar sangat berbahaya karena dapat memicu perbuatan kekerasan sewaktu-waktu.
Hasil dugaan sementara tidak terjadi bentrokan langsung antara siswa SMAN 5 Bandung dengan siswa SMAN 2 Bandung.
FA diduga terjatuh di jalan usai mengikuti acara buka puasa bersama teman-temannya.
“Sebenarnya tidak terjadi tawuran secara langsung. Anak ini seperti menghindar dari anak SMA 2 sehingga terjatuh. Untuk unsur pengeroyokan masih diselidiki, tapi anak-anak ini melewati SMA 2,” kata Diyah Puspitarini.
KPAI meminta kepolisian untuk memproses kasus ini secara hukum dengan berpedoman pada UU Sistem Peradilan Pidana Anak dan UU Perlindungan Anak.
“Kami berpesan agar aparat penegak hukum segera memproses hukum dengan cepat sesuai dengan UU Perlindungan Anak Pasal 59A,” ucap Diyah.
Polrestabes Bandung masih menyelidiki kasus ini, termasuk dugaan adanya penganiayaan terhadap korban.
Saksi mata di lokasi, Adi (40) sempat mendengar keributan kemudian menemukan FA sudah tergeletak di depan sebuah rumah makan seafood.
“Pas saya lihat kondisinya sudah tergeletak, semalam itu ada mobil, korban posisinya di sini, nah motornya di sini,” jelas Adi, dilansir Kompas.com pada Sabtu (14/3/2026).
Menurut kesaksian Adi, korban sempat terjatuh dari motor dan menabrak pohon.
Dari kasus ini Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan juga mengambil langkah antisipatif kejadian serupa terulang dengan melakukan patroli bersama polisi ke tongkrongan-tongkrongan pelajar.
“Dari informasi yang kami dapatkan, ada beberapa kelompok anak-anak SMA yang berkumpul di warung-warung dekat sekolah. Ini sedang kami identifikasi dan akan menjadi perhatian untuk dilakukan pembinaan,” ujar Farhan, dilansir situs Pemprov Jawa Barat, Senin.